Poskad dari Otto sudah ku terima dengan tulisan tangan dari dakwat pena yang mulai kembang kesan titisan hujan tropika setelah menempuhi perjalanan usia yang melewati dua benua.Musim ini baru pertama kali dia mengirimnya setelah musim luruh yang sudah,dia gagal berbuat begitu kerna saja dia perlu memperingati kematian istrinya yang tercinta si Johanna di Brandenburg.
Bait kata pertamanya aku baca seolah meminta aku memahami apa yang lebih baik untuk kita lihat di sebalik sesuatu hal.Aku membayangkan Otto sedang ketawa dengan kemabukannya sambil menulis tentang undang-undang yang seperti sosej di mana adalah lebih baik tidak melihat ketika ia dihasilkan.Jujur,aku mulai juga membayangkan akan undang-undang di negara harimau malaya ini yang seolah 'sandwich' rupanya.Ah,baru 9 tahun dia sebagai 'wild man' sudah mau menebak waras otaknya.Katanya lagi dalam surat yang mulai lusuh dan menguning..,"kalau kamu mau memperbodohkan dunia,beritahu lah akan kebenarannya..".
Pada penghujung ayatnya,'The Iron Chancellor' ini merendahkan nadanya dengan sedikit kesal.."bertuah Malaya kerna bukan emperor German yang menggantung benderanya di institusi perundangan..pasti orang-orang Ingris tidak berani sama sekali merubah undang-undang sesuka hati demi kepentingan diri..".(humming...)Ouh Yach,saat ini aku seolah melihat 'dua maharaja' dalam ketelanjangan mereka dan melaluinya aku tidak melihat apa-apa yang terinspiratif...

No comments:
Post a Comment