Sesuatu yang sangat menarik aku fikir saat merasa serba salah dalam memahami aspek kritikan atau komentar dalam mana-mana penulisan, tidak kira ia diambil dari platform mana sekalipun.Namun untuk ini aku kecilkan skopnya lebih kepada penulisan blog.Seperti kata Mana Sikana dalam memperkatakan sesuatu tentang kritikan yang ditujukannya kepada IsaKamari,seorang penulis kelahiran Kota Singa,"Saudara harus mengembalikan hak kritikan kepada pengkritik,jika saudara terus mengkritik penulisan saudara,adalah lebih baik saudara berhenti menulis..".
Nah,aku terdorong untuk mengatakan soal ini dengan lebih bersikap terbuka selepas aku menghabiskan kata-kata balasan Isakamari.."untukmu caramu,untukku caraku".Itu terus mematikan lentingan yang dipamerkan melalui kata-kata Mana Sikana.Aku masih bersetuju pada keduanya dan terus membuat kesimpulan melalui aksiom "pengarang telah mati",yang aku fikir aku memahami kalau ia dititikkan hanya menerima kritikan sahaja.
Keberanian bersikap terbuka dalam menerima mana-mana kritikan TIDAK ADA pada penulis blog.Malah rata-rata memegang alasan kalau kritikan itu akan mematikan semangat atau cara menjatuhkan blogger.Disebabkan itu, wujud ruang tapisan keijinan pada setiap komentar dan hanya perlu dikeluarkan bila ia tidak mengundang persepsi buruk pada blogger tersebut..Ini suatu kongkongan yang aku rasa terlalu menyekat nilai komentar kita sedang kita tahu kalau nilai penulisan itu sendiri diangkat melalui kritikan atau komentar..Jadi perlu percaya kalau kritikan harus diberi penjelasan dan bukannya dikeluarkan entri dengan cara 'melenting'.
Tau,kalau kita masih berpegang teguh dengan pendirian sendiri tapi bagi aku penulisan itu kebebasan dan kritikan itu juga kebebasan.Namun,di antara keduanya terdapat perbedaan.
No comments:
Post a Comment