Showing posts with label Astronomi. Show all posts
Showing posts with label Astronomi. Show all posts

Monday, May 9, 2011

Info, AS Luncurkan Satelit Militer Baru

Baru-baru ini angkatan militer Amerika Serikat meluncurkan satelit militer barunya ke ruang angkasa. Roket yang tidak berawak Atlas 5 lepas landas ke langit tak berawan dari Cape Canaveral Air Force Station, pada hari sabtu (7/5) waktu setempat dengan membawa satelit ruang angkasa geosynchronous dengan berbasis sistem inframerah.

Satelit ruang angkasa ini akan memberikan peringatan rudal, pertahanan rudal, pengintaian medan perang dan mendukung kegiatan teknik intelijen Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya.

Jaringan inframerah ruang angkasa ini meliputi empat satelit yang mengorbit Bumi pada kecepatan yang sama seperti planet yang berputar 22.000 mil di atas tanah. Rencananya akan lebih banyak lagi satelit militer yang akan diluncurkan.

Demikian info yang kami dapatkan saat browsing di internet.

Saturday, April 23, 2011

Pope May Make First Call to Space

The Pope may make a special call to the International Space Station during the upcoming flight of the space shuttle Endeavour, according to a NASA official.

In what would be the first papal call to space, discussions are underway to try to arrange for Pope Benedict XVI to speak to two Italian astronauts onboard the space station, NASA spokesman Rob Navias told SPACE.com.[Stunning Space Photos by Italian Astronaut Paolo Nespoli]

NASA is discussing the potential call with the European Space Agency (ESA) and the Italian Space Agency (Agenzia Spaziale Italian or ASI), he said.

"No final decision has been made – it is under discussion," Navias said. "We are discussing with ESA and ASI the potential of the pontiff calling the crew in a scheduled event slot that belongs to ESA."Part of what will drive this, in whether or not it comes to fruition, is whether or not we launch on April 29, what the Pope's schedule looks like and whether there is any other opportunities if we launch later than the 29th."

If Endeavour launches as scheduled next Friday, the call may occur on May 4, according to an Associated Press report, which cited the Vatican newspaper L'Osservatore Romano.


European Space Agency astronaut Roberto Vittori, who has flown twice before to the space station, is one of the crewmembers of Endeavour's STS-134 mission, which is slated to launch from NASA's Kennedy Space Center in Florida on April 29.

The satellite call will occur when Endeavour is docked to the orbiting outpost. Endeavour's STS-134 mission will be the orbiter's last before the shuttle is retired from service.

The second Italian astronaut, Paolo Nespoli, has been living and working on the International Space Station since December. Nespoli launched to the station aboard a Russian Soyuz rocket.

Nespoli is expected to return to Earth in September with two of his station crewmates, NASA astronaut Cady Coleman and Russian cosmonaut Dmitry Kondratyev.

Monday, April 18, 2011

Warning, Asteroid Setara 15 Bom Atom Lewati Bumi

Sebuah asteroid sekuat 15 bom atom melewati Bumi dalam lingkup 10 kali jarak bulan. Astronot pertama kali melihat batu seperti rokok itu kemarin dan segera melacaknya.

Pengamat bintang sempat bingung dengan objek berkedip tersebut, tadi malam. Namun, mereka segera sadar bahwa objek berbentuk lonjong sepanjang 50 meter itu mampu menghancurkan negara kecil. Untungnya, asteroid ini tidak menyentuh Bumi meskipun berada dalam jarak dekat sekitar 2.085.321 mll.

"Biasanya saat kita melihat asteroid yang mematikan seperti ini, yang tampak adalah sisi tubuh yang memanjang dan muncul sumbu panjang pertama yang seolah berputar,” kata pihak NASA Don Yeomans kepada News.com.au.

Asteroid 2011 GP59 itu berotasi sekitar tujuh menit setengah dan memantulkan cahaya matahari sekitar empat menit. Batu raksasa itu pertama kali disadari oleh Observatorio Astronomico de Mallorca di Andalusia, Spanyol.

"Tampak objek bercahaya yang muncul sejenak di teleskop lalu menghilang," ujar Nick James, pengamat antariksa amatiran di Chelmsford, Inggris.

Keren, Teleskop NASA Rekam Jutaan Galaksi

Data pertama dari misi NASA untuk memetakan seluruh langit telah dirilis ilmuwan di internet. Hasilnya jutaan galaksi muncul dengan warna-warna menakjubkan. Seperti apa...?

Katalog langit yang dipublikasikan minggu ini meliputi jutaan galaksi, bintang, asteroid dan objek luar angkasa lainnya.

Meski sebelumnya berbagai ilmuwan sudah melakukan penelitian langit, namun karya terbaru NASA itu berhasil merekam penemuan baru, 33.000 asteroid dan 20 komet, misalnya.

Teleskop Wide-field Infrared Survey Explorer (WISE) diluncurkan pada 2009 untuk memindai seluruh langit secara rinci dalam lingkup lebih besar, dibandingkan sebelumnya.

WISE sempat hibernasi di awal tahun setelah memetakan langit 1,5 kali lebih besar. Proyek itu dikelola oleh Jet Propulsion Laboratory milik NASA.

Friday, April 15, 2011

Ilmuan Memprediksi Penerbangan ke Mars Terjadi Setelah 2035

Seorang dari agensi luar angkasa Rusia, Roscosmos, mengatakan kalau pesawat luar angkasa yang mampu terbang ke Mars akan dibuat setelah tahun 2025 dan penerbangan ke planet tersebut baru mungkin setelah tahun 2035.

"Kemungkinan penerbangan ke Mars harus dikombinasikan dengan konstruksi unit tenaga pendorong nuklir dari sebuah pesawat, yang memungkinkan penerbangan tersebut bisa dilakukan hanya dengan waktu satu bulan," ujar Anatoly Perminov dari Roscosmos.

Seperti yang dikutip dari The Hindu, Jumat (14/4/2011), Perminov mengatakan kalau unit tenaga pendorong super bertenaga nuklir untuk pesawat tersebut baru bisa dibuat setelah tahun 2019.

Dana sekira USD256 juta akan dialokasikan sebagai bagian dari program pengembangan inovasi Rosatom (perusahaan nuklir milik Rusia) untuk tahun 2010-2018 yang bekerjasama dengan Roscosmos, untuk membangun sebuah modul tenaga nuklir untuk transportasi luar angkasa.

Meskipun begitu, Kepala dari Roscosmos menyebut penerbangan berawak ke Mars masih 'absurd' serta menambahkan kalau prospek penerbangan tersebut bisa direalisasikan apabila diorganisir dalam skala internasional.

Rusia dan Amerika Serikat telah mengembangkan teknologi untuk memproduksi pesawat luar angkasa bertenaga nuklir selam berpuluh-puluh tahun. Roscosmos dan NASA kini berencana untuk membahas bersama pengembangan pesawat luar angkasa bertenaga nuklir.

Source: http://techno.okezone.com/

Tuesday, April 5, 2011

Mencari Kehidupan Lain di Luar Bumi

Kosakata kehidupan luar bumi dan makhluk asing "alien" ngetop setelah kemunculan fenomena pola lingkaran anomalik di Dusun Jogomangsar, Desa Jogotirto, Berbah, Sleman, Minggu, 23 Januari 2010. Pola lingkaran anomalik, yang dikenal sebagai crop circle atau crop formation yang sering dijumpai di ladang pertanian mancanegara, di Jogotirto tercetak di lahan persawahan 7 ha milik Daldiri, Djamsiyah, Warsidi, dan Ngadiran.

Sawah itu diapit dua bukit yang merupakan ekspresi permukaan dari percabangan sistem patahan Opak. Pola lingkaran anomalik bergaris tengah 30 m itu berada di koordinat 7 derajat 48’ 44’’ Lintang Selatan 110 derajat 27’ 52’’ Bujur Timur elevasi 96 m dpl dan hanya berjarak 4 km di tenggara Bandara Adisucipto.

Kemunculan pola lingkaran anomalik Jogotirto menghebohkan dan segera dikaitkan dengan kreasi makhluk luar bumi berintelijensia tinggi yang mengendarai benda terbang asing atau unidentified flying objects (UFO). Apalagi kemunculnya hanya berselang tiga minggu setelah fenomena aneh lain di langit Yogyakarta berupa lingkaran cahaya pelangi mengelilingi matahari, yang secara ilmiah diidentifikasi sebagai fenomena optis atmosferik bernama halo. Beragam penafsiran pun menyeruak, dari kabar baik, pesan dari langit, hingga dikaitkan dengan banjir lahar yang menggila dan berkali-kali memutus jalur Yogyakarta-Magelang di kilometer 23.

Pola lingkaran anomalik Jogotirto membuat Indonesia sebagai satu dari 27 negara yang mengalami fenomena sejenis. Pola itu secara global mulai muncul sejak dekade 1970-an dan sejak itu lebih dari 10.000 pola teridentifikasi; 90% berada di Inggris selatan, dekat situs Stonehenge. Realitas itu memantik kalangan ufologis dan supranaturalis untuk mengapungkan pendapat kaitan antara pola lingkaran anomalik dan peradaban makhluk luar bumi. Peradaban yang sama pada masa silam diklaim menginspirasi nenek moyang manusia membangun situs pemujaan.

Supranaturalis bahkan mengklaim banyak pola lingkaran anomalik muncul di lokasi Garis Ley, yakni sejenis node pada garis-garis gaya magnetik bumi tempat banyak situs arkeologi. Lokasi pola lingkaran anomalik Jogotirto bersebelahan dengan situs Candi Abang nan unik. Sebab meski merupakan bagian peninggalan Kerajaan Medang (Mataram Kuno) era Jawa Tengah, bahan baku situs adalah batu bata yang menjadi ciri khas Medang era Jawa Timur. Dalam konteks regional, lokasi pola itu cukup berdekatan dengan situs percandian besar Prambanan.

Namaun dari sisi ilmu pengetahuan, ternyata tak ada tanda-tanda keterkaitan pola itu dan peradaban makhluk luar bumi. Sebab, banyak kontradiksi antara karakteristik pola lingkaran anomalik dan konsepsi relativitas umum dan fisika energi tinggi. Yang menonjol, antara lain, tak ada jejak peracunan radiasi sinar X dan gamma di lingkungan sekitar pola itu. Tak mengherankan jika astronom sekaliber Carl Sagan dalam buku The Demon-Haunted World: Science as A Candle in the Dark (1997) secara lugas menyimpulkan tak ada hubungan empirik antara peradaban makhluk luar bumi dan pola lingkaran anomalik. Hipotesis anomali cuaca, gangguan magnetik, dan aktivitas fauna diajukan. Namun semua gagal menjelaskan bentuk-bentuk pola yang makin lama kian kompleks. Itu menguatkan dugaan, pola itu kreativitas manusia dengan motif tertentu. Akhirnya, justru dugaan itulah yang terbukti.
Senyawa Organik Meski dikecewakan, pencarian manusia akan kehidupan luar bumi tak pupus sini. Dengan jagat raya yang tersusun oleh miliaran galaksi dengan sebuah galaksi seperti Bima Sakti saja mengandung sedikitnya 100 miliar bintang dan jika dalam setiap 1.000 bintang dalam Bima Sakti ada satu bintang yang memiliki sistem tata surya, ada cukup banyak planet di jagat raya ini. Jadi rasanya mustahil kehidupan hanya terkonsentrasi di bumi.

Memang ada banyak syarat yang harus dipenuhi agar sebuah planet di tata surya apa pun dan galaksi mana pun bisa mendukung kehidupan. Planet itu harus memiliki bintang induk di zona Goldilocks di tepi dalam lengan galaksi. Bila bintang induk terlalu dekat dengan pusat galaksi, akan terlalu banyak radiasi partikel energetik dan sinar gamma yang diterima jutaan lubang hitam penghuni pusat galaksi, sehingga kehidupan tak mungkin eksis akibat instabilitas atom-atom oleh hantaman radiasi. Sebaliknya, kehidupan pun tak akan eksis bila bintang induk berada di tepi galaksi, tempat yang terlalu miskin radiasi sehingga proses evolusi sulit dipantik.

Planet itu pun harus berjarak pas dengan bintang induk karena bila terlalu dekat permukaannya akan terlalu panas. Sebaliknya bila terlalu jauh, permukaannya akan terlalu dingin. Kedua kondisi ekstrem itu tak memungkinkan air memiliki fasa cair; syarat mutlak eksistensi kehidupan berbasis karbon sebagaimana di bumi.

Salah satu tujuan penerbangan antariksa pasca-Perang Dingin adalah mencari jejak dan bentuk kehidupan luar bumi. Dengan keterbatasan teknologi, pencarian itu masih difokuskan di kawasan tata surya kita. Carl Sagan termasuk sosok yang sangat gigih memperjuangkan pencarian kehidupan luar bumi di lingkungan tata surya, antara lain dengan mempromotori misi antariksa Viking ke Mars tahun 1976.

Mendaratnya Viking di Planet Merah, di satu sisi membuyarkan imajinasi manusia kerdil hijau komikal penghuni Mars yang ikonik selama awal penerbangan antariksa. Di sisi lain menyodorkan kemungkinan ada jejak dan deposit air di Mars, salah satu faktor penting bagi kehidupan. Tiga dekade kemudian, lewat misi antariksa Mars Pathfinder, Mars Global Surveyor, Mars Odyssey, dan Mars Exploration Rover, diketahui air berlimpah pernah eksis di Mars masa silam dan kini masih ada sisa dalam bentuk permafrost (es abadi) di bawah permukaan Mars. Misi antariksa ke Mars mendatang kini dirancang untuk mengidentifikasi potensi jejak-jejak kehidupan di sana, yang diasumsikan berbentuk kehidupan bakterial yang sederhana.

Jejak kehidupan tak hanya dijumpai di Mars, namun terendus pula di asteroid. Yang mengejutkan, asteroid mengandung senyawa organik seperti senyawa bergula dan asam amino — dua senyawa kunci bagi kehidupan. Senyawa bergula dikenal sebagai sumber energi tingkat seluler dan salah satu komponen penyusun asam deoksiribonukleat (DNA) dan asam ribonukleat (RNA) yang sangat penting karena merupakan materi genetik tiap sel makhluk hidup. Sementara asam amino bila digabungkan dengan sesamanya akan membentuk protein. Itulah makromolekul yang sangat penting bagi kehidupan.

Meteorit Almahata Sitta, misalnya, yang diproduksi oleh jatuh dan meledaknya asteroid 2008 TC3 di atmosfer bumi, 7 Oktober 2008 pukul 09:45 WIB, mengandung asam amino sederhana yang berlimpah. Keseimbangan antara kadar asam amino D dan L menunjukkan asam-asam amino itu memang berasal dari meteorit itu dan bukan produk kontaminasi bakteri terestrial selama meteorit berada di bumi.

Eksistensi asam amino memang tak lantas membuktikan kehidupan luar bumi ada. Sebab, asam amino pun bisa terbentuk lewat reaksi anorganik Fischer-Tropsch yang melibatkan gas CO, NH3, dan H2 dalam suhu 200-700 derajat C dengan katalis besi dan nikel. Padahal, meteorit Almahata Sitta terpanaskan hingga 1.100 derajat C di atmosfer. Namun keberadaannya yang melimpah di angkasa bisa diibaratkan lautan senyawa organik yang siap dimanfaatkan untuk memunculkan kehidupan, entah kehidupan di bumi atau luar bumi.

Trik Terbaru Cara Jitu Selidiki Alien

Ilmuwan kini mengembangkan cara jitu untuk menyelidiki keberadaan alien. Caranya adalah menyelidiki ada atau tidaknya jejak penambangan material di sabuk asteroid. Alien diperkirakan menambang material, seperti emas, platinum, besi, dan silikon, yang terdapat dalam jumlah melimpah di asteroid.

Adalah Dr Duncan Forgan dari University of Edinburgh dan Dr Martin Elvis dari Harvard Smithsonian Center For Astrophysics di Massachusets yang mengembangkan gagasan itu. Menurut mereka, menyelidiki jejak penambangan sangat mudah sebab aktivitas itu akan melepaskan banyak debu berkaitan dengan efek suhu lokal.

Penambangan asteroid akan menimbulkan tiga efek yang secara teori bisa dilihat dari Bumi. Pertama, ilmuwan telah paham rasio unsur yang biasa ditemukan di pecahan sabuk asteroid. Dengan demikian, ilmuwan bisa menentukan wilayah dalam sabuk asteroid yang rasio unsurnya berbeda menggunakan spektroskopi.

Kedua, alien akan cenderung menambang sabuk asteroid besar sebab lebih banyak unsur dan mineral yang bisa diperoleh. Ketiga, penambangan asteroid akan menghasilkan debu dalam jumlah besar yang akan mengambil panas dari bintang terdekat, menghasilkan anomali suhu yang bisa dideteksi.

Forgan dan Elvis mengklaim bahwa dengan menyelidiki penambangan material itu, kemungkinan menemukan makhluk luar angkasa akan lebih tinggi. Meski demikian, ia mengakui bahwa perubahan pada sabuk asteroid juga bisa terjadi secara alami.

Intinya, menyelidiki hal tersebut akan meningkatkan kesempatan menemukan alien. Dalam makalahnya, kedua ilmuwan menulis, "Kami menemukan bahwa tanda penambangan asteroid bisa dijelaskan dengan fenomena alam dan dengan demikian hal itu tidak bisa mendeteksi adanya makhluk ektraterestrial secara konklusif."

Di tata surya, sabuk asteroid terdapat di antara Planet Mars dan Jupiter. Sementara itu, sabuk asteroid juga terdapat di tata surya lain, disebut Epsilon Eridani System. Di kedua sabuk asteroid itulah penambangan material oleh alien kemungkinan dilakukan.

Info, Reaksi Nuklir Alami Juga Terjadi di Mars

Dr John Brandenburg, ilmuwan senior di Orbital Technologies Corporation mengutarakan pendapat bahwa reaksi nuklir secara alami juga terdapat di Mars. Reaksi nuklir itulah yang menyebabkan planet Mars berwarna merah.

Seperti dikutip Foxnews (1/4/2011), Brandenburg mengatakan, "Permukaan Mars punya lapisan tipis senyawa radioaktif, meliputi uranium, thorium dan potassium radioaktif. Radiasi muncul dari zona tertentu di Mars."

"Ledakan nuklir bisa menyebarkan debu ke seluruh planet. Citra sinar gamma menunjukkan adanya bintik merah besar seperti debu radioaktif. Di bagian Mars lain juga terdapat bintik merah," lajut Brandenburg.

Brandenburg berpendapat, ledakan yang setara dengan 1 juta kali 1 megaton bom hidrogen pernah terjadi di wilayah Mars bernama Mare Acidalium, sebuah wilayah yang punya konsentrasi radioaktif tinggi.

Ledakan itu mengisi atmosfer Mars dengan radioisotop. Selain itu, Brandenburg mengatakan bahwa ledakan nuklir alami juga telah melalap semua yang ada di permukaan Mars sehingga permukan planet itu kini dipenuhi pasir kering.

Menanggapi pendapat Brandenburg, manajer program penelitian Mars di Jet Propulsion Laboratory NASA Dr David Beaty mengatakan bahwa pendapat itu mengagumkan, namun masih harus dibuktikan kebenarannya.

Mengekspresikan keraguan, ia mengatakan bahwa geologi Mars telah bertahan selama ribuan tahun. Apa yang ada di Mars sekarang juga telah ada dalam jangka waktu lama, hanya terdapat perubahan kecil.

Sementara, Dr Lars Borg dari Lawrence Livermore National Lab mengatakan, pendapat Brandenburg tak mengejutkan. Apa yang disebut Brandenburg sebagai reaksi nuklir sebenarnya adalah proses geologis biasa.

"Kami meneliti meteorit Mars selama 15 tahun dan melihat pengukuran isotop secara detail. Tak cuma satu dari 100 orang yang berpendapat ini berkaitan dengan adanya ledakan nuklir di sana," katanya.

Brandenburg yang pernah bekerja di Livermore mempertahankan pendapatnya. Ia mengatakan bahwa sebenarnya terdapat beberapa ahli yang tak bisa disebutkan namanya sebenarnya menyetujui pendapatnya.

Lebih mengejutkan, Brandenburg berpendapat bahwa reaksi nuklir alami juga terdapat di Bumi. Salah satu wilayah Afrika bernama The Oklo, Gabon memiliki sedimen berlapis uranium yang berasal dari ledakan nuklir 2 milyar tahun lalu.

Brandenburg berpendapat, data radiasi sinar gamma menunjukkan peningkatan radiasi Xenon-129 di Mars beberapa tahun terakhir. Gejala sama juga terjadi di Bumi setelah bencana nuklir di Chernobyl tahun 1986 dan krisis Nuklir di Jepang.

Keren, AS-Rusia Bikin Pesawat Bertenaga Nuklir

Badan Antariksa Rusia (Roscosmos) dan Badan Antariksa dan Aeronautika Amerika (NASA) sepakat bekerja sama dalam pengembangan mesin bertenaga nuklir untuk pesawat ruang angkasa, menurut laporan beberapa media, Senin (4/4/2011).

Kepala Roscosmos, Anatoly Perminov, seperti dikutip Xinhua di pusat antariksa Kazakh Baikonur, mengatakan, Rusia telah melakukan inisiasi untuk membangun mesin bertenaga nulir bersama dengan NASA hingga 2019 dan menggunakan mesin tersebut untuk penerbangan ke Planet Mars.

Mesin tersebut akan membuat penerbangan ke Mars ditempuh dengan waktu 20 kali lebih cepat, kata Perminov, seraya menambahkan bahwa pertemuannya dengan Kepala NASA, Charles Bolden, dijadwalkan pada 15 April mendatang.

Sementara itu, Perminov membenarkan peluncuran sebuah pesawat tanpa awak untuk mendarat di salah satu satelit planet Mars yang dijadwalkan pada Oktober tahun ini.

Pesawat ruang angkasa Phobos-Grunt akan dikirimkan ke permukaan Phobos, dengan membawa satelit mikro buatan China, YH-1, yang akan menjadi penjelajahan pertama negara itu ke Planet Mars.

Perminov juga mengatakan, Rusia mungkin akan memulai kembali program pariwisata luar angkasa mereka dalam dua tahun, dengan harga tiket yang ditetapkan berada di kisaran 50 juta dollar AS.

Ia menambahkan, Rusia berencana meningkatkan pesawat ruang angkasa Soyuz mereka yang akan diluncurkan mulai tahun 2013 serta mengikutsertakan kosmonot Ukraina dan Kazakhstan sebagai awaknya.

Perminov juga mengungkapkan, rencana Rusia membangun tempat peluncuran tambahan di pusat ruang angkasa Baikonur di Kazakhstan pada akhir 2011.

Selasa (5/4/2011) ini, pesawat ruang angkasa Rusia, Soyuz TMA-21, yang membawa tiga astronot akan diluncurkan dari pusat ruang angkasa Baikonur.

Friday, March 4, 2011

Bulan Dekati Bumi 19 Maret, Pertanda Bencana..?

Dongakkan kepala Anda ke arah langit malam, Sabtu 19 Maret 2011 mendatang. Jika mendung tidak menggantung, akan terlihat penampakan Bulan lain dengan biasanya.

Satelit Bumi itu akan nampak lebih besar. Di malam itu, Bulan akan berada dalam jarak terdekat dengan Bumi sejak tahun 1993, 18 tahun yang lalu. Fenomena ini disebut 'lunar perigee'. Sementara, ada astrolog yang menyebutnya 'SuperMoon'.

Penampakan Bulan malam itu akan sangat menarik untuk difoto. Tapi, sejumlah astronom meramalkan, kejadian itu mengkhawatirkan, karena akan mempengaruhi pola iklim di Bumi. Sebagian orang menghubung-hubungkan lunar perigee itu dengan bencana, seperti gempa.

Apa kata ilmuwan? "Tak akan ada gempa bumi atau gunung meletus," kata Pete Wheeler dari International Centre for Radio Astronomy, seperti dimuat News.com.au, Jumat 4 Maret 2011. "Kalau memang itu terjadi, itu sudah ditakdirkan."

Kata dia, saat itu, Bumi memang akan mengalami pasang lebih tinggi, dan surut lebih rendah dari biasanya. "Tak ada yang perlu dikhawatirkan," tambah Wheeler.

Untuk diketahui, sejumlah bencana di Bumi terjadi saat fenomena lunar perigee atau saat jarak antara Bumi dan Bulan dekat. Misalnya, badai New England pada 1938, atau banjir di Lembah Hunter pada 1955.

Meski tidak terjadi dalam periode itu, bencana Siklon Tracy pada 1974 dan badai Katrina pada 2005 juga terkait SuperMoon.

Mengamini pendapat Wheeler, astronom sekaligus dosen, David Reneke mengatakan, terlalu jauh untuk menghubungkan fenomena itu dengan bencana alam. "Kalau mau, Anda bisa saja menghubung-hubungkan hampir semua bencana alam yang terjadi dengan apa yang terlihat di langit malam -- komet, planet, matahari," kata Reneke.

Sementara, ilmuwan Bumi dan Planet dari Adelaide University, Dr Victor Gostin mengatakan, prediksi cuaca, gempa, gunung meletus, dan bencana alam lainnya berdasarkan konfigurasi planet, tidak pernah sukses.

Namun, memang dimungkinkan ada korelasi antara gempa bumi berskala besar di dekat katulistiwa dan Bulan -- kala baru, atau purnama.

"Analoginya seperti pasang surut air laut, pergerakan Bumi akibat gravitas Bulan bisa memicu gempa bumi."

Tuesday, March 1, 2011

Robot NASA Gagal Tuntaskan Misi Luar Angkasa

Robot humanoid milik NASA, yang menandai perjalanan luar angkasa pertamanya bersama misi terakhir pesawat ulang alik Discovery Sabtu silam, dilaporkan telah gagal menjalani misinya berjalan di stasiun ruang angkasa atau international space station (ISS).

Demikian dikabarkan NASA usai menerima laporan langsung dari ISS, yang dikutip VIVAnews dari Computer World, Selasa 1 Maret 2011.

Dua astronot NASA, Steve Bowen dan Alvin Drew, baru saja menyudahkan misi ruang angkasanya pada hari Senin ketika robot humanoid itu berhenti bekerja sesampainya di pesawat kubah 7 jendela.

Padahal, astronom membawanya untuk membantu mereka menginstal ekstensi ke pusat listrik (power cable). Para astronot juga memerlukan bantuannya ketika memindahkan modul pompa seberat 800 pound (setara 362 kilogram) untuk sebuah platform eksternal di mana ia akan "menumpang" untuk kembali ke Bumi pada misi selanjutnya. Namun, kedua misi itu gagal dilakukan.

Bowen dan Drew, yang telah menjalani misi ke-200 sebagai astronot, juga dijadwalkan untuk menginstal kamera di rangka eksternal dan membubuhkan dua ekstensi ke trek sepanjang rangka. Namun, misi ini belum diselesaikan.

Pesawat ulang alik milik NASA, Discovery, telah tiba di ISS atau stasiun ruang angkasa, Sabtu 26 Februari 2011. Ini merupakan kali terakhir pesawat berawak itu mengangkut manusia ke luar angkasa sejak Agustus tahun 1984.

Discovery membawa enam awak astronot dalam misi terakhirnya. Dipimpin oleh Steve Lindsay, pesawat yang telah menjalankan 38 misi itu mengangkut pilot Eric Boe, Alvin Drew, Michael Barratt, Nicole Stott, dan Steve Bowen.

Mereka membawa robot yang menyerupai fisik manusia. Bernama Robonaut R2, ia dibuat oleh NASA dan General Motor dalam waktu 15 tahun. Nantinya, ia akan melakukan pekerjaan-pekerajaan yang berisiko tinggi bagi manusia, terutama berjalan di luar angkasa.

Saturday, February 26, 2011

Discovery Tiba di Stasiun Ruang Angkasa

Pesawat ulang alik milik NASA, Discovery, telah tiba di internasitional space station (ISS) atau stasiun ruang angkasa, sekitar 2 jam yang lalu waktu Florida, Sabtu 26 Februari 2011. Ini merupakan kali terakhir pesawat berawak itu mengangkut manusia ke luar angkasa sejak Agustus tahun 1984.

Discovery membawa enam awak astronot dalam misi terakhirnya, Dipimpin oleh Steve Lindsay, pesawat yang telah menjalankan 38 misi itu mengangkut pilot Eric Boe, Alvin Drew, Michael Barratt, Nicole Stott, dan Steve Bowen.

Di stasiun ruang angkasa, awak pesawat diharapkan dapat melanjutkan proses pembangunan bersama enam orang lainnya yang sudah berada di sana lebih dulu. Secara total, akan ada 12 orang di atas pesawat. Mereka berasal dari Amerika Serikat, Rusia, dan Italia.

Discovery membawa ruang tambahan untuk dipasang menjadi ruang tambahan di ISS, membawa robot humanoid pertama yang dapat terbang di angkasa, serta membongkar persediaan untuk para awak yang tinggal maupun yang akan kembali sekitar minggu depan.

Terkait robot humanoid, astronom membawanya untuk membantu mereka bekerja layaknya astronot. Robot yang menyerupai fisik manusia ini bukan robot sembarangan. Bernama Robonaut R2, ia dibuat oleh NASA dan General Motor dalam waktu 15 tahun. Ia akan melakukan pekerjaan-pekerajaan yang berisiko tinggi bagi manusia, seperti berjalan di luar angkasa.

Misi ke-39 ini adalah misi terakhir Discovery. Selama aktif, ia telah menempuh jarak sekitar 230 juta kilometer (belum termasuk misi terakhir) untuk merampungkan misi selama 352 hari dan mengelilingi Bumi 5.628 kali. Sekitar 31 satelit telah diantarnya ke ruang angkasa, termasuk Hubble Space Telescope.

Belasan Asteroid Dekat Bumi

Menggunakan teleskop canggih di Pulau Maui, Hawaii, sejumlah astronom berhasil menangkap gambar 19 asteroid yang lalu-lalang di sekitar Bumi. Jumlah tersebut merupakan jumlah terbanyak yang berhasil ditemukan para ilmuwan dalam kurun waktu satu malam.

Para ilmuwan yang menggunakan teleskop Pan-STARRS PS1 di Haleakala, Maui, mengatakan citra asteroid itu ditangkap oleh teleskop berumur tua yang software-nya sudah diimprovisasi dan teknik observasi yang diperbaiki.

Dahulu, sebelum instrumen itu diimprovisasi, teleskop seringkali salah mendeteksi. "Sulit membedakan antara asteroid yang nyata dan asteroid 'hantu'," kata Nick Kaiser, kepala proyek Pan-STARRS, seperti dikutip dari Star-Advertiser, Sabtu 26 Februari 2011.

"Selama demonstrasi yang dilakukan pada 29 Januari silam, para astronom mengambil empat eksposur berbeda, satu per satu, untuk memastikan hasil observasi nantinya akan akurat," tandasnya.

Untuk mengerjakan proyek deteksi kegiatan asteroid di sekitar Bumi ini, Kaiser cs menerima dana hibah dari badan antariksa AS, NASA, dan US Air Force. Proyek ini juga melibatkan sejumlah studi dan penelitian.

"Kami tidak didanai khusus untuk ini, tetapi kami pikir kami melakukannya untuk sebuah demonstrasi. Kami berharap untuk menghasilkan lebih banyak dana untuk kegiatan serupa [deteksi asteroid]", kata Kaiser.

Dari studi selama ini, kemungkinanan asteroid membentur atmosfer Bumi kira-kira 1 banding seribu. Dan, menurut Kaiser, keberadaan asteroid dapat diketahui sehingga memungkinkan pemerintah untuk bertindak cepat sebelum hal tersebut menjadi sebuah ancaman yang nyata.

"Layaknya risiko penyakit berbahaya yang langka," kata Kaiser. "Kemungkinan orang terjangkit penyakit tersebut kecil sekali. Namun, risiko yang diterima saat terjangkit benar-benar tidak diinginkan. Tentu saja Anda ingin mengantisipasi hal itu supaya tidak terjadi," jelasnya.

Dengan keakuratan hasil observasi teleskop oleh Pan STARRS ini diharapkan para ilmuwan dapat mewaspadai tiap kegiatan asteroid di sekitar Bumi sebelum terjadi bencana akibat benturannya dengan atmosfer.

Friday, February 25, 2011

Bom Nuklir Digunakan untuk Hancurkan Asteroid

Jika sebuah asteroid besar tengah meluncur ke Bumi dan mengancam peradaban, cara yang dilakuan di film Armageddon tampaknya bukan isapan jempol. Penelitian terakhir membuktikan bahwa menghancurkan asteroid menggunakan bom nuklir bisa digunakan.

Menurut peneliti dari Lawrence Livermore National Laboratory di California, David Dearborn, bila diperkirakan tabrakan asteorid ke Bumi terjadi dalam jangka waktu 50 tahun, maka menggunakan bom nuklir merupakan solusi terbaik.

"Bom nuklir adalah bom terkuat sejauh yang kita ketahui. Kekuatannya yang mencapai tiga juta kali bom kimia dapat menjadi harapan. Hanya, pertanyaannya kini, bagaimana menggunakan energi tersebut?" ungkap David.

Diakuinya memang pecahan asteriod akan menghasilkan puing-puing yang tetap berpotensi menabrak Bumi. "Namun risiko itu kita khawatirkan berikutnya saja. Yang penting asteriod utama sudah berhasil dipecahkan," paparnya.

Menurutnya, risiko tetap tertabraknya bumi oleh puing-puing pecahan asteriod tidak mutlak. Pascapeledakan asteroid, ada kemungkinan arah puing asteroid berubah.

"Kemampuan bom nuklir juga sangat mungkin digunakan untuk mengubah orbit puing-puing asteroid sehingga Bumi terhindar dari bahaya tabrakan. Namun itu semua dengan catatan kita benar-benar memilki waktu yang cukup," ujarnya lagi.

Ditambahkan Direktur NASA Lunar Science Institue, David Morrison, NASA akan mengirimkan astronautnya untuk mengunjungi sebuah asteroid pada 2025. Para astronaut tersebut akan mengkaji kemungkinan dilakukannya percobaan peledakan asteroid guna melihat perubahan arah yang dapat terjadi.

"Simulasi awal yang kami lakukan adalah meledakkan sebuah asteroid berukuran 270 meter dengan energi 300 kiloton saat 15 hari sebelum diperkirakan terjadinya tabrakan akan dapat berhasil mengalihkan jalur asteroid yang semula menuju Bumi. Sekitar 97 persen material asteroid akan bisa teralihkan dari bumi," papar Morrison.

Tuesday, February 22, 2011

Ada Kehidupan di Planet Mirip Bumi..?

NASA, badan antariksa milik AS NASA, baru-baru ini mengidentifikasi 'dunia' baru yang dikenal dengan KOI 326.01. Planet ini memiliki volume dan diameter lebih kecil dibandingkan Bumi dengan temperatur sedikit lebih rendah dari air mendidih. Tetapi, sejauh ini KOI 326.01 menjadi planet yang termirip dengan Bumi, setidaknya dari segi ukuran.

Planet KOI 326.01 telah ditangkap pertama kali oleh Teleskop Kepler. Teleskop tersebut bekerja untuk mendeteksi planet-planet ekstrasolar (berada di luar tata surya). Ia mampu mengamati 150.000 bintang terdekat Bumi di ruang angkasa.

Dari ratusan ribu bintang yang citranya terjangkau, teleskop Kepler mengamati segala perubahan cahaya samar menuju bintang. Jika ada bayangan atau obyek yang mengganggu pandangan ke arah bintang, bisa jadi itu adalah planet.

Sejauh pengamatan terhadap KOI 326.01, ilmuwan planet dari Ames Research Center NASA William Borucki mengatakan, "Ini obyek kecil, kandidat kecil."

"Astronom pun bahkan tidak mengetahui berapa ukuran bintang induknya. Sebab itu, sulit untuk mengetahui karakteristik planet yang mirip Bumi itu. Sampai kini, belum ada konfirmasi lebih lanjut," tandas dia, yang juga bertanggung jawab sebagai kepala tim sains Kepler, seperti dikutip dari TG Daily, Selasa 22 Februari 2011.

Sementara itu, Sara Seagar dari MIT mengatakan pengamatan melalui teleskop Kepler adalah langkah pertama tim menuju pengungkapan karakteristik planet-planet selain Bumi. Inisiatif di masa mendatang, dikatakan Sarah, adalah mengetahui adanya kehidupan atau tidak, serta memahami karakter planet beserta isinya secara umum jika mereka menunjukkan tanda-tanda kehidupan.

"Pertanyaan-pertanyaan di atas belum bisa terjawab dengan satu teleskop ini. Ini baru langkah awal. Ke depan, kami akan menciptakan teknologi yang bisa menjawab semua pertanyaan itu," ujar Sarah yang juga tergabung menjadi anggota tim Kepler.

Memang, ada perkiraan bahwa satu dari 200 bintang di ruang angkasa pasti terdapat sebuah planet yang memiliki zona layak huni oleh makhluk hidup, atau seperti kehidupan seperti Bumi.

Planet KOI 326.01 salah satunya? Itu masih misteri. Tapi, menurut beberapa ilmuwan, planet seukuran Bumi itu merupakan salah satu planet yang cocok untuk kehidupan alternatif penghuni Bumi.

"Ada banyak sekali laut di permukaan planet-planet yang ada di luar sana. Sangat menarik untuk dieksplorasi apakah ada kehidupan atau tidak," tutur Borucki. "Tapi, untuk menuju ke sana, kita perlu waktu bertahun-tahun sejak data pertama ditemukan."

Saturday, February 12, 2011

Astronom Temukan Lubang di Matahari

Lubang terlihat lebih gelap dibandingkan dengan
kawasan di sekelilingnya.
Lubang ini memungkinkan gas panas dari inti Matahari
terlepas ke luar.

Sebuah satelit ruang angkasa telah mendeteksi dua lubang berukuran besar di Matahari. Lubang ini diyakini menjadi jalan bagi material dan gas milik bintang itu untuk keluar ke alam bebas.

Lubang yang disebut sebagai ‘coronal hole’ tersebut merupakan celah di antara medan magnet Matahari. Celah itu melubangi lapisan atmosfir luar yang super panas – disebut juga dengan corona – sehingga memungkinkan gas panas dari inti Matahari terlepas ke luar.

Lubang itu terdeteksi oleh satelit Hinode yang khusus memantau aktivitas Matahari. Adapun kedua lubang tersebut terdeteksi dari foto-foto yang diambil pada 1 Februari lalu.

Pada gambar yang ditangkap, lubang terdapat di bagian tengah atas di dekat kutub Matahari, adapun lubang lain berada di bagian bawah. Lubang juga terlihat lebih gelap dibanding bagian lain dari Matahari. Namun ada alasan untuk itu.

“Suhu lubang itu relatif dingin dibandingkan dengan kawasan aktif di sekelilingnya. Temperatur lebih dingin itu membuat lubang tampak lebih gelap di gambar,” kata juru bicara NASA, seperti dikutip dari Space, 11 Februari 2011.

Hinode Solar Observatory merupakan satelit pemantau milik Jepang yang telah mengamati bintang tersebut sejak diluncurkan pada tahun 2006 lalu. Satelit itu didesain untuk mempelajari medan magnet Matahari untuk membantu ilmuwan dalam memahami bagaimana energi disebarkan melalui lapisan berbeda milik atmosfir Matahari.

Misi pemantauan yang dilakukan Hinode sendiri merupakan misi gabungan antara Japan Aerospace Exploration Agency, Japan’s National Astronomical Observatory, NASA dan European Space Agency.

Wednesday, February 9, 2011

Peneliti NASA & ESA Siapkan Misi ke Dua Bulan Jupiter

Ilmuwan asal Amerika dan Eropa sepakat bekerjasama dalam mengerjakan misi ambisius ke Jupiter. Mereka tertarik untuk mengeksplorasi samudera yang ada di dua buah bulan berlapis es milik planet raksasa tersebut.

Europa Jupiter System Mission, nama misi itu, merupakan usaha gabungan antara NASA dan European Space Agency (ESA). Misi dipersiapkan dalam rangka melakukan pencarian terhadap dunia lain yang bisa dihuni manusia.

Misi tersebut, jika disetujui, akan mengirimkan dua satelit yang akan mengorbit di dua buah bulan milik Jupiter. Satelit milik NASA akan pergi ke Europa, sementara satelit milik ESA akan mengelilingi Ganymede, bulan lain di Jupiter yang diperkirakan juga memiliki perairan yang sangat luas.

“Meski dipisahkan oleh samudera, namun kami sepakat untuk menggelar misi ke dunia air di Jupiter,” kata Bob Pappalardo, peneliti dari Jet Propulsion Laboratory NASA di California, Amerika Serikat, seperti dikutip dari Space, 9 Februari 2011.

Pappalardo sendiri merupakan ilmuwan yang bertugas untuk menangani satelit yang akan dikirimkan ke Europa.

“Europa Jupiter System Mission akan menghadirkan lompatan pengetahuan ilmiah seputar kondisi bulan-bulan milik Jupiter dan potensi yang mereka miliki terhadap kehidupan,” ucap Pappalardo.

Sebagai informasi, pada tahun 2009 lalu, proposal penggelaran misi bersama NASA dan ESA tersebut diprioritaskan untuk dipelajari lebih lanjut. Dan Peneliti dari kedua belah pihak sepakat bahwa secara teknis, misi tersebut merupakan misi luar angkasa yang paling memungkinkan.

Dalam beberapa bulan ke depan, NASA juga akan menganalisa kembali strategi kerjasama sambil menunggu hasil dari Planetary Science Decadal Survey yang digelar oleh National Research Council of US National Academies. Survey itu akan menjadi basis bagi road map misi NASA ke planet-planet untuk dekade yang dimulai pada tahun 2013 mendatang.

Jika disepakati, Europa Jupiter System Mission akan diluncurkan pada tahun 2020 mendatang. Diperkirakan satelit itu akan tiba di orbit Europa dan Ganymede sekitar tahun 2026.

Monday, February 7, 2011

Bintang Pertama Alam Semesta Tak Sendiri

Berbeda dengan dugaan selama ini, bintang pertama di alam semesta ternyata tidak sendirian. Ilmuwan menemukan fakta ini dari simulasi komputer. Seperti apa..?

"Bintang-bintang yang terbentuk secara bersamaan akan berpisah saat gas disekitarnya memecah formasi sehingga melahirkan beberapa fragmen bintang," ujar peneliti studi.

Penemuan yang diterbitkan di Science Express ini menjadi bukti baru pembentukan bintang pertama kali setelah Big Bang.

Para ilmuwan di Pusat Astronomi milik Heidelberg University dan Max Planck Institute for Astrophysics, Jerman, bekerja sama dengan mitra di University of Texas. Mereka meneliti proses bagaimana bintang berevolusi dengan simulasi komputer beresolusi tinggi.

Temuan tim menunjukkan gambaran sederhana bahwa alam semesta tidak hanya diisi oleh populasi raksasa bintang soliter. Alasannya adalah berdasarkan teori fisika yang dikenal dengan nama accretion disks yang menyertai kelahiran bintang pertama.

Pada dasarnya, saat gas terus berputar dan membentuk gesekan internal maka tidak hanya membentuk bintang sebagai satu pusat tetapi juga menciptakan kelompok bintang kecil. Jarak antarbintang utama dengan bintang tambahan sama seperti Bumi dengan Matahari.

Bintang berevolusi dari awan gas kosmik dalam pertempuran sengit antara gravitasi dan tekanan gas internal. Kepadatan gas terus meningkat sehingga menciptakan gravitasi sendiri.

Inilah yang menyebabkan peningkatan tekanan dan kompresi tanpa henti. Jika gas berhasil menyingkirkan energi gas, maka bintang baru dapat lahir.